1. /
  2. Blog
  3. /
  4. Blogspot
  5. /
  6. Fixed Mindset Bisa Berubah...

Fixed Mindset Bisa Berubah Kok Jadi Growth Mindset, Asal Kamu Mau Berkembang

Venners, apa yang terbesit pertama kali di pikiran kamu kalo temen deket kamu dapet nilai ujian yang lebih gede dari kamu? Padahal dia bilang sama kamu kalo dia belum belajar. Di sisi lain, kamu juga tau kalo dia memang langganan juara kelas. Hmmm, udah ga aneh sih ya kita temuin tipe-tipe temen yang kaya gini.. diam-diam mengejutkan.

Sebagian dari kita mungkin ada yang berpikir kalo si dia, sebut saja A ini memang udah pinter dari sananya jadi kalo pun ga belajar dia tetep bisa dapet nilai bagus. Nah, ada juga nih yang berpikir kalo si A bisa aja emang ga belajar h-1 sebelum ujian, tapi dia udah paham dari lama karena sering latihan jadi udah hafal banget. Dari dua anggapan tadi, kamu prefer yang mana nih, Venners?

Kalo kamu lebih merasa prefer ke anggapan yang pertama, berarti kamu masih memiliki fixed mindset nih, Venners!

Berbeda dengan orang dengan tipe growth mindset yang pasti akan berpikir pada pernyataan kedua, orang dengan tipe fixed mindset cenderung akan berpikir bahwa sebuah kepintaran, kecakapan, atau bakat sekalipun dibawa sejak lahir dan bersifat tetap dan tidak berubah. Sementara itu, orang dengan pola pikir growth mindset lebih melihat bahwa pemahaman, pengetahuan, kemampuan, dan kecakapan seseorang bisa berkembang seiring waktu sejalan dengan kerja keras yang dilakukannya.

Sesuai dengan artinya, growth mindset merupakan pola pikir yang berkembang dan terbuka pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, orang dengan tipe ini percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan itu dapat dikembangkan. Sedangkan, fixed mindset terkesan lebih menerima apa adanya kemampuan dan kecerdasan bawaan mereka, karena beranggapan bahwa bakat dan kecerdasan itu tetap dan tidak dapat diubah.

Biar lebih paham, Edvan coba kasih tau ya beberapa ciri dari perbedaan kedua pola pikir tadi. Yuk langsung aja simak contoh di bawah ini!

Fixed mindset cenderung berorientasi pada hasil dan mengabaikan proses. Saat melihat atlet berprestasi di sekolahmu, kamu mungkin melihat dia sebagai orang yang beruntung karena dikelilingi pujian dan teman yang banyak. Tapi, tahukah kamu dibalik prestasi cemerlangnya, banyak waktu dan tenaga yang ia korbankan untuk berlatih dan terus belajar memperbaiki diri untuk bisa naik ke podium paling atas.

Kritik dan kegagalan dilihat sebagai ajang pertumbuhan diri oleh pemikir growth mindset. Buat kamu yang kemarin gagal masuk perguruan tinggi atau belum dapat memenangkan perlombaan favoritmu, apa yang kamu lakukan sesudahnya? Berikan selamat pada diri kamu apabila sampai saat ini kamu masih belum dan pantang menyerah, ya. Edvan tahu, kamu jadikan kegagalan ini sebagai evaluasi untuk memperbaiki diri dan berjuang kembali dengan strategi yang lebih baik lagi.

Nah, gimana? Kamu masih memiliki fixed mindset ga nih, Venners?

Hmmm, sebentar, deh. Kalo kita mempunyai pola pikir fixed mindset seperti di atas, emangnya bisa berubah ya? Bisa dong, Venners. Carol Dweck, psikolog pembuat karya jenius tentang pola pikir pertumbuhan fixed dan growth mindset ini bahkan mengatakan “Everyone is actually a mixture of fixed and growth mindsets, and that mixture continually evolves with experience.” Semua orang pada dasarnya memiliki pola pemikiran campuran antara keduanya, tidak sepenuhnya fixed mindset ataupun growth mindset. Menurutnya, tidak ada seorang pemikir growth mindset murni, mereka hanya terus menerus mempelajari dan mengembangkan pola pikir mereka.

Terus, apakah seorang dengan growth mindset tidak memedulikan hasil yang mana menjadi tolok ukur kesuksesan itu sendiri? Nah, Venners, menurut Carol Dweck lagi nih yaa, pemikir yang berkembang seharusnya tidak hanya memuji upaya yang dilakukan saja. Mengapa begitu? Ya kalo fokus sama usaha aja dan mengesampingkan kemajuan yang mestinya dicapai, percuma dong. Itu namanya usaha yang tidak produktif. Menghargai pembelajaran dan kemajuanmu sangatlah penting. Dengan begitu, kamu bisa melihat hal apa yang harus diperbaiki atau mencoba strategi baru sehingga usaha akan lebih efektif. Karena kalo engga, manti prinsipnya malah gini dong, “yang penting udah usaha”. Wah, harus diperhatiin lagi nih, Venners!

Nah, untuk mempraktekkan growth mindset dalam diri kita, kita harus mulai mengenali pemicu fixed mindset dan melawannya. Saat kita menerima kritik, mendapat perlakuan tidak baik, atau menghadapi tantangan seringkali kita merasa tidak aman atau istilah kerennya, insecure. Tak jarang, kita juga malah memilih membela diri kita. Akhirnya, tidak memiliki keinginan untuk berkembang. Lingkungan juga terkadang memaksamu untuk terus bergulat dalam pemikiran yang tetap, seperti berteman dengan orang yang sama insecure dan pesimisnya dengan dirimu. Kalian hanya akan sama-sama memberikan validasi yang salah.

Jadi, mulailah melatih emosi dan pikiranmu ya, Venners. Tidak ada salahnya kok untuk mengakui kesalahan selama kamu mau menjadi lebih baik lagi. Jangan lupa, mulailah selektif memilih lingkungan ya. Dengan begitu, engga cuma mencari hiburan, kamu juga bisa melakukan inovasi, melakukan kolaborasi, atau bahkan sekadar mencari feedback untuk dirimu sendiri.

Referensi:

Dweck, Carol. 2013. What Having a “Growth Mindset” Actually Means. Retrieved from Hbr.org.

Mayrika Nitami, Daharnis dan Yusri. (2015). Hubungan Motivasi Belajar dengan

Kresnoadi. 2021. Fixed Mindset Vs Growth Mindset: Apa sih Perbedaan Keduanya?. Retrieved from Ruangguru.com.

Junaedi, Nur Lella. 2021. Growth Mindset Vs Fixed Mindset, Mana Yang Baik Untuk Kesuksesan Karier?. Retrieved from Ekrut.com

Ruby, Fellexandro. 2020. YOU DO YOU Discovering Life through Experiment & Self-Awareness. Jakarta: PT Gramedia Putaka Utama

Penulis: Lugina Nurul Ihsan

Edvan Global Link,
Your Education and Career Planning Partner

Leave a Reply

Your email address will not be published.